Peran Guru Seni Budaya sebagai Agen Konservasi Nilai Tradisional Melalui GamelanPeran Guru Seni Budaya sebagai Agen Konservasi Nilai Tradisional Melalui Gamelan
Peran Guru Seni Budaya sebagai Agen Konservasi Nilai Tradisional Melalui Gamelan

Bogor, 29 April 2026 — Suara ritmis instrumen gamelan menggema di lingkungan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Bogor pada Rabu (29/04). Alunan musik tradisional ini berasal dari teras Laboratorium Komputer, di mana sejumlah siswa tampak khusyuk sekaligus antusias mengikuti sesi latihan rutin.

Kegiatan ini bukan sekadar ekstrakurikuler biasa, melainkan langkah konkret institusi dalam menjaga kelestarian warisan leluhur. Di bawah bimbingan Bapak H. Koko Komarudin, guru Seni Budaya MAN 2 Bogor, para siswa diajak untuk mengenal lebih dalam filosofi dan teknik menabuh gamelan.

Sebagai sosok di balik layar, Bapak H. Koko Komarudin memandang peran guru seni bukan hanya sebagai pengajar teknis, melainkan sebagai agen konservasi. Di tengah gempuran tren budaya modern, memperkenalkan gamelan kepada generasi muda adalah upaya krusial agar nilai-nilai tradisional tidak luntur.

"Seni gamelan mengajarkan tentang keselarasan, kesabaran, dan kerja sama tim. Saat siswa menabuh, mereka sebenarnya sedang belajar menghargai harmoni," ujar beliau di sela-sela kegiatan latihan.

Pemilihan ruang teras Laboratorium Komputer sebagai lokasi latihan memberikan suasana yang terbuka dan inklusif. Hal ini terbukti dari tingginya minat siswa yang hadir. Beberapa siswa terlihat sangat bersemangat saat mencoba berbagai instrumen, mulai dari saron, bonang, hingga gong.

Keaktifan para siswa ini menunjukkan bahwa musik tradisional masih memiliki daya tarik kuat jika dikemas dengan pendekatan yang tepat di lingkungan sekolah. Dengan adanya pembinaan rutin seperti ini, MAN 2 Bogor optimistis dapat mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki akar budaya yang kuat. 



Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)