Embun, Doa, dan Sapu Lidi: Potret Setia Sang Pembersih MadrasahEmbun, Doa, dan Sapu Lidi: Potret Setia Sang Pembersih Madrasah
Embun, Doa, dan Sapu Lidi: Potret Setia Sang Pembersih Madrasah

Bogor, 27 April 2026 – Saat mentari baru saja menyembul di ufuk timur dan butiran embun masih membasahi dedaunan, suasana di lingkungan MAN 2 Bogor sudah mulai berdenyut. Di kala sebagian besar orang masih bergelut dengan dinginnya pagi atau bersiap memulai hari, sebuah harmoni sederhana telah tercipta di halaman madrasah.

Irama itu berasal dari gesekan lidi yang bertemu dengan aspal dan tanah. Sosok di balik kemudi kebersihan itu adalah Bapak Utis Sutisna, seorang pegawai kebersihan yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut nadi MAN 2 Bogor.

Ritual Pagi di Balik Gerbang

Bagi Pak Utis, setiap ayunan sapu bukan sekadar rutinitas untuk menghilangkan sampah daun yang gugur semalam. Baginya, kebersihan adalah bagian dari ibadah yang ia hantarkan melalui kerja keras sebelum bel masuk berbunyi.

"Bekerja di lingkungan pendidikan Islam itu ada berkahnya sendiri. Saya ingin anak-anak nyaman saat belajar, supaya ilmu yang mereka dapat juga bersih dan barokah," ujarnya singkat di sela-sela aktivitasnya.

Langkah-langkahnya yang tenang seolah berpacu dengan waktu. Sebelum para guru dan siswa berdatangan, Pak Utis memastikan setiap sudut—mulai dari lapangan upacara hingga selasar kelas—sudah rapi dan siap menyambut aktivitas belajar mengajar.

Kehadiran Pak Utis menjadi bukti nyata bahwa roda sebuah institusi tidak hanya digerakkan oleh mereka yang berdiri di depan kelas, tetapi juga oleh mereka yang bekerja dalam sunyi di balik layar.

Para siswa yang mulai berdatangan kerap menyapa sosoknya yang ramah. Meski peluh mulai membasahi keningnya di tengah hawa Bogor yang sejuk, senyum Pak Utis jarang memudar. Ia adalah potret nyata dari pengabdian tanpa tepi, sebuah dedikasi yang seringkali tidak menuntut pujian, namun dampaknya dirasakan oleh seluruh warga madrasah.

Melalui "Embun, Doa, dan Sapu Lidi", kita diingatkan bahwa setiap profesi memiliki kemuliaannya masing-masing. Di MAN 2 Bogor, Bapak Utis Sutisna telah mengajarkan satu pelajaran berharga yang tidak tertulis di buku teks: bahwa ketulusan adalah kunci utama dalam menjalani pengabdian.

Seiring matahari yang semakin tinggi, halaman MAN 2 Bogor kini bersih berseri. Sebuah kanvas kosong yang siap digunakan para generasi muda untuk melukis masa depan, semua berkat langkah awal seorang pria bernama Pak Utis di bawah sisa-sisa embun pagi.



Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)