Website Resmi MAN 2 Bogor

Visi : Unggul dalam Prestasi, Mulia dalam Akhlak

Motto : Madrasah Hebat, Bermartabat.

Artikel : Menejemen Suasana Hati

Selasa, 10 Juli 2018 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 122 Kali

Oleh Yosef Budiman, S.Pd., M.Com,

Guru Ekonomi MAN 2 Bogor 

Profesi guru merupakan profesi yang berkaitan dengan intelektual dan mental. Intelektual berarti seorang guru harus menguasai mata pelajaran yang diajarkan baik konsep maupun aplikasinya kemudian mampu mentransfer kepada peserta didik. Sedangkan mental berkaitan dengan kemampuan mengelola suasana hati agar bisa mengajar dengan baik di dalam mapun diluar kelas.


Dalam tataran praktis, tugasi guru dalam semua jenjang lebih mengedepankan mental sebab tugas utamanya adalah mendidik dan mengajar. Karena berkaitan dengan mental, seorang guru dituntut untuk tampil prima mengajar didepan para siswa seolah-olah sedang menampilkan pertunjukkan orkestra atau drama yang memukau penonton. Tujuannya agar peserta didik tertarik dan mengikuti sepenuhnya apa yang diajarkan guru sehingga tujuan pembelajaran tercapai.


Mengajar dengan prima bukan perkara yang mudah sebab hal ini melibatkan banyak aspek baik berkaitan dengan guru maupun tidak berkaitan. Diantara aspek yang sangat berpengaruh adalah mood atau suasana hati. Mood yang baik memiliki korelasi erat dengan pengajaran prima di kelas. Hati yang tenang bisa membuat guru berfikir jernih dan konsentrasi dengan pekerjaannya sehingga sebelum mengajar ia bisa membuat persiapan baik teknis maupun non teknis. Misalnya, metode apa yang akan digunakan di kelas dan bagaimana metode alternatifnya jika tidak berjalan. Guru yang telah berpengalaman guru bisa mengetahui suatu metode bisa diterapkan pada suatu kelas dan tidak bisa diterapkan dalam kelas lainnya karena karakteristik dan kondisi siswa berbeda meskipun jenjangnya sama.


Suasana hati pun bisa mempengaruhi kondisi psikologis guru. Guru yang memiliki banyak masalah baik di rumah maupun ditempat kerja bisa tidak akan memiliki gairah mengajar. Akibatnya guru hanya sekedar mengajar demi menggugurkan kewajiban. Akibatnya suasana kelas akan pasif dan hambar. Jika siswa dikelas kurang responsif, sulit faham atau gaduh, yang muncul hanya luapan emosi dari guru. Bahkan jika menemukan siswa yang melanggar norma kesopanan atau melanggar aturan, guru cenderung reaktif akhirnya muncul kekerasan terhadap siswa yang saat ini sering menjadi sorotan banyak pihak.


Selain itu, tekanan akibat beban mengajar yang banyak bisa mempengaruhi mood mengajar. Guru yang mengajar 40 jam perminggu di SMA misalnya, dipastikan harus mengajar dari jam pertama sampai terakhir selama lima hari tanpa ada jeda. Guru akan kelelahan karena mengajar tanpa henti dari pagi sampai menjelang sore. Akibatnya kualitas mengajar sulit dipertahankan karena energinya habis terkuras terutama di jam terakhir.


Tugas tambahan pun tak kalah berpengaruh terhadap mood terutama tugas yang berat seperti kepala sekolah dan wakil kepala. Meskipun mereka memilki tugas tambahan pada hakikatnya adalah guru yang masih harus mengajar dikelas. Menurut aturan kepala sekolah minimal 6 jam pelajaran dan wakil kepala minimal 12 jam pelajaran. Namun yang sering terjadi, tugas tambahan tersebut lebih menyita waktu dan konsentrasinya sehingga tugas utama sebagai guru terabaikan.


Pengelolaan suasana hati sangat relevan dengan konteks saat ini. Sebab tuntutan agar guru bekerja lebih profesional digaungkan oleh banyak pihak seperti, pemerintah, pemilik yayasan dan orang tua. Pemerintah telah membuat berbagai peraturan yang bertujuan agar guru bekerja lebih profesional sehinga mutu pendidikan meningkat . Bagi pemilik yayasan guru profesional bisa memberikan pelayanan prima sebab kelangsungan hidup lembaga ditopang oleh kinerja guru. Jika tidak orang tua akan menarik anak-anaknya dari sekolah tersebut. Orang tua pun menuntut hal sama sehingga anak-anak mereka bisa memahami pelajaran dengan baik yang kelak akan bermanfaat bagi masa depan mereka.


Karena suasana hati guru begitu penting agar tujuan pembelajaran tercapai, maka seorang guru harus mampu mengelolanya dengan baik. Begitupula, pihak-pihak terkait seperti pemerintah dan pengelola sekolah harus peka terhadap hal ini dengan diwujudkan melalui kebijakan yang mendukung.

KOMENTAR

Admin - Rabu, 11 Juli 2018

Alhamdulillah kalau begitu pak

Ah Sahroni - Selasa, 10 Juli 2018

Pencerahan untuk persiapan KBM TP.2018/2019.

KOMENTARI TULISAN INI

...

Dra. Hj. N. Nani Ruhyani, M.Pd.

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh Pendidikan adalah produk kreatifitas yang sangat luar biasa, aktifitas pendidikan pada hakikatnya adalah sebuah usaha untuk mengembangkan…

Selengkapnya